Ada Apa Dengan Stovia?

Museum Kebangkitan Nasional
Halo pembaca blog saya, postingan jalan-jalan kali ini masih di sekitar ibukota republik yaitu Jakarta, tepatnya mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional yang dahulu merupakan bangunan untuk sekolah para dokter di era kolonial STOVIA (School tot Opleiding Van Indische Artsen).

Sedikit tentang sejarah STOVIA ini merupakan kelanjutan Sekolah Dokter Djawa yang didirikan puluhan tahun sebelumnya, namun ditutup oleh pemerintah kolonial karena dianggap tidak memuaskan hasilnya sebagaimana tercatat di buku Healers On The Colonial Market karya Liesbeth Hesselink (buku ini menurut saya tergolong lengkap isinya menjelaskan sejarah dokter dan bidan di era kolonial)
Ruang Dosen Stovia
Setelah saya baca lagi di buku itu kepanjangan STOVIA baru digunakan sejak tahun 1913 hingga tahun 1927 karena sebelumnya singkatan STOVIA adalah School tot Opleiding Van Inlandsche Artsen. Perbedaannya pada kata Indlandsche yang berarti pribumi. Nama ini dianggap para murid Stovia yang belajar dan berorganisasi dianggap merendahkan mereka, diganti menjadi Indische yang berarti Hindia atau Bumiputera.

Terlihat sepele memang, tapi merupakan kemajuan di era tersebut sebab ada persamaan derajat antara rakyat Hindia Belanda yang belajar di sana dengan para murid dari Belanda. Apalagi di tahun tersebut sedang terjadi demam organisasi di mana kaum priyayi yang bisa bersekolah mulai mempertanyakan kehadiran Belanda di tanah air Hindia Belanda sebagai pihak yang "berbeda"
Mantap Slogannya
Singkat cerita pasca kuatnya tekanan kaum Liberal di parlemen Belanda untuk mensejahterakan rakyat di tanah jajahan, dan terbukanya era modal Hindia Belanda maka Sekolah Dokter Djawa dibuka kembali dengan nama STOVIA pada tahun 1889, dengan perubahan di bagian kurikulum dan siapa saja yang bisa bersekolah. Bangunannya sendiri dibuka pada tahun 1902 dengan bantuan biaya teman-teman Menteri Kolonial J.T Cremer.

Sebetulnya ini kunjungan kedua saya ke Museum Kebangkitan Nasional yang letaknya bersebelahan dengan RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat. Waktu pertama saya kesini, museumnya sedang tutup jadi tidak bisa masuk dan hanya bisa foto-foto dari luar. Nah baru kemarin saya bisa kesini lagi dan menjelajah isi di dalam museumnya.
Diorama Kuliah Di Stovia
Berangkat dari rumah jam 11-an siang saya sampai ke Stovia jam 11.30, cukup cepat mengingat hari Sabtu, jadi kemacetan Jakarta tidak terlalu kejam dari daerah rumah saya. Belum lagi teman saya Ismail membawa motornya dengan ngebut jadi tidak terasa terobos sana terobos sini tiba-tiba sudah sampai di lokasi hahaha...

Setelah memarkirkan motor, seperti biasa  harus beli tiket masuk museum dan mengisi buku tamu. Kejutannya adalah harga tiket masuk museum ini sangat murah, yaitu cuma 2ribu rupiah saja, itupun sudah termasuk leaflet tentang museum dan mendapat bonus booklet teks artikel Ki Hajar Dewantara berjudul Andai Aku Seorang Belanda yang sempat mengguncang pemerintahan kolonial saat artikel itu diterbitkan.

Sepertinya booklet ini tidak setiap hari bisa didapat beruntung waktu saya kesana sedang ada pameran Ki Hajar Dewantara sehubungan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada bulan Mei. Lumayanlah dapat gratisan, soalnya saya baca teks ini sudah lama sekali, itupun dalam bentuk PDF dengan ejaan lama yang lebih ribet bacanya.
Kasurnya Kaum Terpelajar
Memasuki gerbang Museum Kebangkitan Nasional seakan membawa kita ke masa lalu di mana bangunan ala Belanda dengan taman yang indah menyambut dan terawat dengan baik menyambut saya. Belum lagi jika melihat lorong-lorong dengan jendela berukuran raksasa khas bangunan kolonial.

Suasananya begitu tenang dan damai di dalam museum ini meskipun sedang ada siswa-siswi SMA yang berlatih upacara di halaman bagian kiri. Aih 150 tahun lalu mungkin tidak terbayang bendera merah putih dikibarkan di sana dengan gagah ditambah iringan lagu Indonesia Raya.

Nah di dalam museum ini, kita akan bertemu dengan ruangan yang tersebar di berbagai tempat. Beberapa yang saya catat adalah ruangan dosen dimana ada patung dosen Belanda lengkap dengan meja dan kursinya, 2 ruang pamer alat-alat kedokteran lengkap dengan sejarah kedokteran di Indonesia, ruangan kelas yang berisi meja, kursi, papan tulis plus patung murid Stovia dan dosennya yang menggambarkan suasana belajar waktu itu. Ruangan asrama yang mirip ruangan rumah sakit karena terdapat bangsal, lemari dan replika seragam murid-murid Stovia dan kafe Stovia yang berjualan berbagai makanan dan minuman ringan.
Tempat Favorit Saya Ya Kantinnya
Dari ruangan kantin masih ada 2 ruangan lagi yang berisi sejarah organisasi-organisasi pergerakan di era Hindia Belanda. Masing-masing dipisah menurut sejarah berdiri dan perannya bagi kemerdekaan Indonesia. Ada beberapa organisasi yang diceritakan disini yaitu Indische Partij, Sarekat Dagang Islam, Muhammadiyah, Perhimpunan Indonesia dan tentu saja Boedi Oetomo yang merupakan organisasi yang didirikan di gedung ini oleh para pelajar Stovia.

Semua ditata rapi dan menarik sehingga tidak bosan saya membaca isinya, meskipun dalam hati saya mempertanyakan beberapa narasinya yang menurut saya sangat melebih-lebihkan peran Boedi Oetomo dibanding organisasi lainnya hehehe... Oh iya ada juga sedikit sejarah Kartini yang dalam narasinya di sini ditulis bahwa Kartini sebetulnya ingin sekolah di Stovia namun tidak diperbolehkan ayahnya sebab Stovia waktu itu hanya sekolah untuk laki-laki saja.

Di bagian depan masih ada 1 bangunan lagi dimana terdapat display pameran tentang Ki Hajar Dewantara. Semua tentang sejarah Ki Hajar Dewantara dipamerkan di sini dari kelahiran hingga perannya pasca Indonesia merdeka. 1 hal yang menarik adalah replika surat penggantian namanya yang juga dipamerkan.
Lambang Boedi Oetomo dan Patung para Ketuanya
Rasanya menyenangkan bisa ke tempat ini, seperti menjadi seorang Minke, tokoh dalam buku Tetralogi Pulau Buru-nya Pram, sebab diceritakan Minke juga sempat mengenyam pendidikan di Stovia sebelum akhirnya dia keluar dan memutuskan menjadi jurnalis hehehe...

Hampir dua jam saya dan Mail menghabiskan waktu di Museum Kebangkitan Nasional sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Sampai jumpa Stovia lain kali saya bakal ngopi disini lagi.


Bacaan Lebih Lanjut :
Healers in Colonial Market
Stovia Wikipedia
Jakartapedia
Leaflet Museum Kebangkitan Nasional

Share:

0 comments