Pada Sebuah Kafe di Prawirotaman


Aku sudah lupa bagaimana cara menghitung waktu, mungkin karena terlalu bahagia. Sehari, sebulan, setahunkah sejak kita jumpa? Yang jelas diriku berubah setelah bertemu denganmu.

Di kafe ini aku mengutuk lelaki muda bersama gadisnya yang duduk di sebelah sana. Bercengkerama seolah-olah dunia hanya milik mereka yang bercinta

Mungkin aku marah pada diriku sendiri karena yang bisa kulakukan hanya memeluk dirimu dalam kata-kata. Berusaha terus menyiasatimu yang bergemuruh di telinga

Lain lagi meja di belakangku, ya aku juga merutuknya. Serius sekali mereka membincang kuasa. Mereka buta, tadi di bawah sana ada kakek tua mengaduk sampah untuk sekedar mengisi perutnya

Di sela asap rokok yang kuhembuskan, di gelas air neraka yang sudah kuhabiskan, degup kota ini menyadarkan : Alih-alih menghilang kau justru tambah berisik di ingatan

Share:

0 comments